fbpx Judul Saya
Niat Ikhlas Berqurban Karena Allah SWT

Niat Ikhlas Berqurban Karena Allah SWT

Oleh: Agus Purwanto Lc.,M.Hum

Beberapa saat lagi bulan Dzulhijjah, bulan berkurban akan datang. Sebagian dari mereka yang hendak menyembelih hewan kurban ditahun ini sudah mulai memesan hewan kurban atau bahkan sudah ada yang membeli untuk berqurban.

Memahami aturan dalam ibadah kurban ini adalah suatu keharusan bagi mereka yang hendak menunaikan ibadah ini; agar ibadah kurban diterima oleh Allah Ta’ala, dan tidak sia-sia saja.

Dalam pelaksanaan ibadah apapun nama dan jenisnya, termasuk juga ibadah kurban, ada dua syarat umum yang harus terpenuhi:1- Ikhlas (الإخلاص), hanya mengharapkan ridho dan pahala dari Allah Ta’ala.2- Mutaba’ah (المتابعة), beribadah dengan cara yang telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW. (Fathul Majiid, 1/372).

Serba-Serbi Ikhlas.Kitab Al Mumti’ Fil Qawaid Al-Fiqhiyah menjabarkan beberapa hal mendasar tentang ikhlas, yang harus kita fahami:

  1. Definisi.الإخلاص في النية: أن يراد بالعمل وجه الله تعالى وحده.Ikhlas adalah beramal/beribadah hanya mengharapkan Ridho dari Allah Ta’ala saja.
  2. Dalil Urgensi Ikhlas.Ikhlas adalah syarat nomor wahid untuk diterimanya (maqbulnya) ibadah kita, hal ini berdasarkan pada beberapa dalil, diantaranya adalah:

{ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء…}

“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al Bayyinah: 5).

” إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى…”

“Sesungguhnya semua amal ibadah bergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang telah dia niatkan…” (HR. Bukhari, 1/6, No. 1).

“… لَا عَمَلَ لِمَنْ لَا نِيَّةَ لَهُ…”

“… tiada amal/ibadah bagi orang yang tidak memiliki niat…” (HR. Al Baihaqi, 1/67, No. 179).

3. Niat bercampur dengan riya’.Riya’ adalah antonim (lawan kata) dari ikhlas, artinya adalah seseorang beramal namun dia mengharapkan ganjaran dari selain Allah Ta’ala, misalnya dia berharap mendapatkan pujian dari orang lain.

Ibadah yang terkontaminasi dengan riya’ tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala, kecuali dalam dua kondisi:

Pertama: seseorang memulai ibadahnya dengan penuh keikhlasan, namun ditengah pelaksanaan ibadah timbul rasa riya’, hal itu tidaklah membahayakan ibadahnya, namun dia harus segera menghilangkan rasa riya’ tersebut dari hatinya, dan segera kembali kepada keikhlasan.

Kedua: seseorang hendak beribadah, namun karena saking takutnya kepada riya’, dia menjadi ragu apakah terus beribadah ataukah bagaimana?. Dalam hal ini cukuplah bagi dia menguatkan keikhlasan yang ada dalam hatinya, dan tidak perlu memperhatikan perasaan was-wasnya terhadap riya’.(Al Mumti’ Fil Qawaid Al-Fiqhiyah, 1/85, Al Ikhlas Fin Niyah).

Berqurban dengan Ikhlas.

  1. Ibadah qurban termasuk beribadah kepada Allah dengan harta, syarat mutlak agar ibadah ini diterima adalah ikhlas.
  2. Tidak pantas bagi seseorang  menunda-nunda ibadah qurban padahal ada kemampuan, hanya karena khawatir hatinya terjangkit penyakit riya’. Ini adalah talbis iblis (tipu daya iblis), cukuplah bagi dia menguatkan keikhlasan dalam hati, dan tidak usah menghiraukan bisikan iblis ini.
  3. Salah satu indikasi keikhlasan dalam berqurban adalah tidak mudah down ketika hewan qurban kita agak kurang “istimewa” dibandingkan dengan hewan qurban milik orang lain.Kriteria Hewan qurban yang penting adalah syarat-syaratnya terpenuhi maka sudah sah dalam aturan fikih Islam, walaupun mungkin kurang besar atau kurang istimewa dihadapan orang lain. Jangan sampai kita mengurungkan niat untuk berkurban hanya karena mampunya membeli hewan qurban yang tidak sebanding dengan hewan qurban milik orang lain. Yang terpenting adalah bagaimana kita dipandangan Allah, bukan bagaimana pandangan manusia kepada kita. Wallahu A’lam Bis-Shawab.

Tim Mitra Wakaf

Bagikan ini di

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *