fbpx Judul Saya
⁠⁠⁠Pondasi Dasar Dalam Ekonomi Islam

⁠⁠⁠Pondasi Dasar Dalam Ekonomi Islam

Oleh: Agus Purwanto Lc., M.Hum.

Urgensi Pondasi

Salah satu tolok ukur kekokohan suatu bangunan adalah seberapa kuat pondasi yang menopang. Semakin kuat pondasi maka akan semakin kuat pula bangunan tersebut. Fokus konsen dakwah Nabi Muhammad SAW dimasa awal kerasulan beliau adalah memperkuat pondasi keislaman (Tauhid) didalam sanubari orang-orang yang beriman. Dan ini berlangsung selama 13 tahun di kota Mekkah. (As-Sirah An-Nabawiyah ‘Ala Dhouil Qur’an Was-Sunah, 2/13).

Usus Al-Iqtishad Al-Islami (أسس الاقتصاد الإسلامي).Ahli bahasa, baik bahasa ibu (اللغة الأم) ataupun bahasa asing (اللغة الثانية), kepakarannya akan semakin tajam apabila disertai dengan penguasaan yang baik terhadap kaidah dasar dari bahasa tersebut. Begitu juga dengan pembelajaran ekonomi Islam, transaksi akad keuangan akan “lebih” syar’I apabila pelaku akad atau semua pihak yang terkait memiliki pemahaman yang baik terhadap asas-asas dasarnya, sehingga mengarahkan mereka agar berbuat searah dengan kaidah dasar ini.

Pondasi dasar dari ekonomi Islam adalah 3 hal penting berikut ini:1- Al Wahdaniyah (الوحدانية): ketauhidan.2- Ar Risalah (الرسالة): petunjuk/aturan hidup.3- Al Hadaf (الهدف): tujuan.(Al Usus Asy Syar’iyyah Lin Nidzam Al Iqtishadi, 1/1).

Pertama: Al Wahdaniyah.Al Wahdaniyah adalah suatu bentuk keyakinan yang menancap kuat dalam hati sanubari seseorang, bahwa hanyalah Allah Dzat yang Maha Esa, 1- keimanan bahwa Allah adalah pencipta alam jagad raya ini (توحيد الربوبية), 2- keimanan bahwa kepada-Nya-lah tujuan beribadah (توحيد الألوهية),3- keimanan bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Mengawasi, Maha Besar….(توحيد الأسماء والصفات).(Al Qoul Al Mufid, 1/12).

Transaksi keuangan (muamalah maliyah), apapun bentuk atau jenisnya, baru layak disebut sebagai bagian dari ekonomi Islam atau sesuai dengan koridor Syariat jika dilandasi dengan prinsip keimanan.Dan yang paling erat dengan hal ini adalah keimanan bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengawasi. Sehingga pelaku akad terdorong untuk jujur dan transparant, baik didepan atau dibelakang partnernya.

“البيعان بالخيار ما لم يتفرقا، فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما، وإن كتما وكذبا محقت بركة بيعهما”

Penjual dan pembeli memiliki hak khiyar selama mereka belum berpisah, jika keduanya jujur dan saling terbuka niscaya akad mereka diberkahi, dan jika keduanya berdusta dan saling menutupi dicabut keberkahan akad yang mereka lakukan (HR. Bukhari, 3/58, No. 2079).

Kedua: Ar Risalah.Maksudnya adalah Allah Ta’ala tidaklah membiarkan manusia menghuni dunia ini tanpa petunjuk dan aturan. Allah mengutus para Nabi dan Rasul kepada umat manusia untuk menyampaikan petunjuk dan aturan hidup. Dan aktifitas transaksi keuangan adalah termasuk hal yang mendapatkan perhatian khusus dari Allah SWT.Ayat Al Qur’an yang terpanjang memaparkan secara detail petunjuk dalam akad utang-piutang.

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلاَ يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللّهَ رَبَّهُ وَلاَ يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئاً فَإن كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهاً أَوْ ضَعِيفاً أَوْ لاَ يَسْتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُواْ شَهِيدَيْنِ من رِّجَالِكُمْ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاء أَن تَضِلَّ إْحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى…}

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya…” (QS. Al Baqarah: 282).

Dan lebih lanjut banyak sekali penjelasan langsung dari Allah Ta’ala atau melalui Nabi-Nya, Nabi Muhammad SAW, berkaitan dengan aturan ekonomi Islam, baik secara umum atau secara khusus.Misalnya perintah wajib untuk berlaku adil, tidak berbuat dhalim, jujur dalam berkata dan berbuat, menjauhi riba dengan segala jenisnya, juga menghindari gharar, tadlis, dls.

Dan sebagaimana sebelumnya, transaksi keuangan (muamalah maliyah), apapun bentuk atau jenisnya, baru layak disebut sebagai bagian dari ekonomi Islam atau legal didepan kacamata hukum syar’I, jika semua pihak yeng terkait taat dan patuh kepada semua aturan ini.

Ketiga: Al Hadaf (tujuan).Cita-cita terbesar seorang yang beriman adalah mendapatkan Maghfirah (ampunan), Ridho dan Rahmat dari Allah Ta’ala.

{ وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ}

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133).

Sehingga menjadi sebuah keharusan, setiap orang yang beriman mengarahkan semua aktifitasnya untuk merealisasikan hal ini, dan termasuk juga dalam bertransaksi keuangan.

Dan yang akan kami sedikit tekankan disini bahwa domain utama dari penerapan aturan Syariat Islam dalam berekonomi adalah kesejahteraan Akhirat.Jadi seandainya seseorang hijrah dari sistem ekonomi non Islam kepada sistem Islam, kemudian ternyata malah bangkrut atau rugi, maka dia akan tetap husnudzon dengan Allah dan Rasul-Nya.   Tetap yakin bahwa semua yang telah terjadi adalah dengan taqdir dan kebijakan dari Allah Ta’ala. Serta tetap yakin bahwa Allah SWT tidak akan menyalahi janji.

{(وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3…..}

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. Ath Thalaq: 2-3).

{… إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ}

… Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji” (QS. Ali Imran: 9).

Wallahu A’lam Bish-Sawab

Bagikan ini di

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *