fbpx Judul Saya
Beda Jenis Akad, Beda Konsekuensi

Beda Jenis Akad, Beda Konsekuensi

Oleh: Agus Purwanto Lc., M.Hum

Syarat Mutlak Ekonomi Syariah.Kita sudah memahami bahwa hukum asal dari akad mu’amalah maliyah atau akad transaksi keuangan adalah boleh, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya, baik secara eksplisit maupun implisit.

الأصل في العقود الجواز

“Hukum asal setiap akad adalah boleh” (Mathalib Ulin Nuha, 3/608)

Akad transaksi keuangan dihukumi mubah/boleh apabila terpenuhi dua ketentuan umum:

1- Terpenuhi semua rukun dan syarat-syaratnya. (Al Muqaddimah Fil Muamalah Al Maliyah, 1/6-10)

2- Tidak ada unsur kedholiman didalamnya.

ما دام ليس فيه ظلم ولا غرر ولا رباً فالأصل الصحة

“Selama dalam akad tidak terdapat unsur kedzaliman, gharar, dan riba maka akad tersebut sah” (Asy Syarhu Al Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’, 9/120).

Dzalim adalah mengerjakan larangan serta meninggalkan perintah Allah.

عبارة عن التعدي عن الحق إلى الباطل

“(Kedzaliman adalah) pelanggaran peraturan, berpaling dari perkara yang haq (benar) dan mengerjakan perkara yang bathil” (At Ta’rifat Lil Jurjani, 1/144).

Jika kita lihat definisi kata “dzalim” diatas maka sebenarnya gharar dan riba sudah masuk dalam definisi ini.Jadi intinya adalah akad transaksi keuangan hukumnya haram ketika terdapat didalamnya unsur pelanggaran aturan Syariat Islam, apapun bentuknya, baik berupa mengerjakan yang dilarang atau meninggalkan yang diperintah.  Klasifikasi Akad Transaksi Keuangan. Diantara pembahasan dasar dari akad Muamalah Maliyah atau Ekonomi Islam yang harus kita fahami dengan baik adalah beberapa klasifikasi akad transaksi keuangan dari sudut pandang yang berbeda-beda.Urgensi dari pemahaman terhadap hal ini adalah sebagai upaya nyata mensterilkan akad dari faktor KEDZOLIMAN; akad yang keluar dari jenis klasifikasinya sangat berpotensi menjerumuskan pelakunya kepada KEDZOLIMAN.

Klasifikasi terhadap akad-akad transaksi keuangan, banyak sekali ragamnya berdasarkan sudut pandang yang berbeda-beda. Namun setidaknya, ada 2 klasifikasi penting yang harus kita mengerti:

1- Al Mu’awadhot (komersil / profit oriented) dan At Tabarru’at (sosial / non profit oriented). (Al Qawa’id Libni Rajab, 1/67-74).

2- Yad Adh Dhaman (terjamin) dan Yad Al Amanah (amanah). (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 28/258).

Pertama: Al Mu’awadhat (المعاوضات) & At Tabarru’at (التبرعات) Al Mu’awadhat:

عقود المعاوضات هي: كل عقد محتو على بدل من الجانبين

“Akad Al Mu’awadhat adalah setiap akad yang mengharuskan keberadaan dua komoditas (barang dan uang, misalnya) yang dipertukarkan oleh dua pihak yang bertransaksi” (Khasyatud Dasuqi, 3/2).

Tujuan utama dari akad Mu’awadhat adalah mendapatkan profit atau keuntungan. Misalnya: akad jual-beli barang atau jasa.

وَعَنْ عُرْوَةَ الْبَارِقِيِّ – رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي بِهِ أُضْحِيَّةً, أَوْ شَاةً, فَاشْتَرَى شَاتَيْنِ, فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ, فَأَتَاهُ بِشَاةٍ وَدِينَارٍ, فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ, فَكَانَ لَوِ اشْتَرَى تُرَابًا لَرَبِحَ فِيهِ.

“Dari Urwah Al Bariqi RA. bahwa Nabi SAW pernah memberinya satu dinar untuk dibelikan seekor hewan kurban atau seekor kambing. Ia membeli dengan uang tersebut dua ekor kambing, kemudian menjual salah satunya dengan harga satu dinar. Lalu ia datang kepada beliau demham seekor kambing dan satu dinar. Beliau mendoakan agar jual belinya diberkahi oleh Allah, sehingga kalaupun ia membeli debu, ia akan memperoleh keuntungan” (HR. Bukhari, 2/207, No. 3642).

At Tabarru’at:

عقود التبرعات: هي التي تقوم على أساس المنحة أو المعونة من أحد الطرفين للآخر فلا يأخذ فيها المتعاقد مقابلا لما أعطاه، ولا يعطي فيها المتعاقد الآخر مقابلا لما أخذه

“Akad Tabarru’ adalah akad yang dibangun diatas asas murni pemberian atau pertolongan dari satu pihak kepada pihak yang lainnya, pemberi tidak mengambil kompensasi atas apa yang dia berikan, dan penerima tidak memberi sesuatu pun sebagai kompensasi apa yang telah dia terima” (Al Madkhal Al Fiqhi Al ‘Am, 1/579).

Akad Tabarru’at adalah akad sosial, tolong menolong, profit atau keuntungan bukanlah orientasinya. Contohnya adalah akad utang-piutang.

عن عائشة رضي الله عنها، قالت: “توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم ودرعه مرهونة عند يهودي، بثلاثين صاعا من شعير”

“Dari Aisyah RA, berkata: Rasulullah SAW wafat, sementara baju besinya masih tergadai pada orang Yahudi karena meminjam 30 sha’ gandum” (HR. Bukhari, 4/41, No. 2916).

Kaidah fikih menegaskan bahwa jika terdapat keuntungan dari berlangsungnya akad utang-piutang maka keuntungan ini adalah riba.

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Setiap utang-pitang yang menarik manfaat adalah riba” (Al Hawi Al Kabir, 6/246).

Manfaat/keuntungan/profit ini tidak hanya berupa barang, namun termasuk juga didalamnya jasa.

“إذا أقرض أحدكم قرضا، فأهدى له، أو حمله على الدابة، فلا يركبها ولا يقبله…”

“Apabila seseorang diantara kalian memberikan pinjaman, lalu yang menerima pinjaman memberikan hadiah kepadanya atau memintanya untuk menaiki kendaraannya, maka janganlah dia menaikinya dan jangan menerima hadiahnya…” (HR. Ibnu Majah, 2/813, No. 2432).

Sosial berubah menjadi komersial?- Dalil diatas menekankan bahwa haram hukumnya merubah akad tabarru’at menjadi akad mua’awadhat. Jika niat sejak awal ingin mendapatkan profit pilih saja pola alur akad jual-beli, jangan menggunakan pola alur akad utang piutang.

– Bahkan Rasulullah SAW melarang keras menggabungkan antara akad utang-piutang dengan akad jual-beli; karena dikhawatirkan margin dari akad jual-beli atau kesempatan untuk menjual/membeli menjadi sebuah manfaat yang dilarang dalam kaidah fikih diatas.

” لا يحل سلف وبيع…”

“Tidak halal menggabungkan antara akad pinjaman dan akad jual-beli…” (HR. Abu Dawud, 3/283, No. 3504).

– Lebih lanjut Rasulullah SAW mengecam mereka yang menjadikan akad jual-beli sebagi rekayasa untuk menghalalkan riba dayn (riba utang-piutang).

“إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ, وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ, وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ, وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ, سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ”

“Jika kalian melakukan transaksi ‘inah, tunduk dengan harta kekayaan (hewan ternak), mengagungkan tanaman dan meninggalkan jihad niscaya Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian” (HR. Abu Dawud, 1/247, No. 844).

Transaksi ‘Inah adalah seseorang membeli barang dengan cara kredit kemudian dia jual kembali barang tersebut kepada penjual dengan cara tunai dan harga dibawah harga jual-beli pertama. (Al Muqaddimah Fil Mu’amalah Al Maliyah, 1/44).

Hikmah larangan mencari keuntungan dari akad keuangan sosial adalah:

1- Adanya janji Allah berupa “keuntungan” didunia dan akhirat bagi mereka yang ikhlas dalam akad sosial ini.Bagaimana mungkin ada seseorang yang dijamin mendapatkan “keuntungan” yang besar, namun masih melirik keuntungan yang “kecil”?!
2- Merubah akad tabarru’at menjadi akad mu’awadhot berarti mengeluarkan suatu hal dari tabiat aslinya yang telah ditentukan atau ditaqdirkan oleh Allah Ta’ala. Dan hal ini menyalahi amanat dari perintah untuk memenuhi/menjalankan akad sebagaimana tabiat aslinya .

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ…}

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu…” (QS. Al Maidah: 1).

Bahkan hal ini kemungkinan besar mirip dengan seorang laki-laki yang berperilaku seperti wanita atau sebaliknya; karena sama-sama merubah suatu hal dari tabiat aslinya.

عن ابن عباس قال: “لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم المترجلات من النساء، والمخنثين من الرجال…”

Dari Ibnu Abbas RA, berkata,”Rasulullah saw melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki….” (HR. Ahmad, 3/457, No. 2005).

– Akad sosial tidak boleh diubah menjadi akad komersial, namun sebalilnya akad komersil boleh diubah sosial. Misalnya adalah 1- Jual beli At Tawliyah: menjual barang/jasa sesuai dengan harga modal, tanpa ada keuntungan sedikitpun. 2- Jual beli Al Wadhi’ah: menjual barang/jasa dibawah harga modal. (Kasyful Akinnah, 1/8).

Ringkasan:

– Ketentuan mutlak agar akad keuangan legal secara syar’I adalah terdapat didalamnya rukun dan syarat secara lengkap, dan akad tersebut dipastikan steril dari unsur kedzoliman.

– Kedzoliman adalah segala bentuk pelanggaran aturan Syariat Islam, baik berupa mengerjakan yang telah diharamkan atau meninggalkan hal yang wajib dikerjakan/dipenuhi.

– Salah satu bentuk usaha nyata agar terhindar dari unsur kedzoliman dalam berlangsungnya suatu akad adalah dengan memahami klasifikasi jenis akad tersebut. Mengeluarkan akad dari tabiat aslinya menjerumuskan seseorang kepada kedzoliman.Beda jenis akad, beda juga konsekuensinya.

– Akad keuangan sosial tidak boleh berubah menjadi akad keuangan komersil, namun sebaliknya boleh merubah akad komersil menjadi akad sosial.Bersambung di “Yad Al Amanah dan Yad Adh Dhaman”.

Wallahu A’lam.

Bagikan ini di

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *