fbpx Judul Saya
MENJUAL KULIT HEWAN QURBAN, BOLEHKAH?

MENJUAL KULIT HEWAN QURBAN, BOLEHKAH?

Praktek dimasyarakat kita, yang sering kita jumpai adalah panitia qurban menjual kulit hewan qurban, dan hasil penjualannya untuk menutupi kekurangan dana operasional panitia, mulai dari proses penyembelihan sampai dengan pendistribusian daging qurban. Misalnya: upah jagal, pembelian snack dan minuman untuk panitia, kantong plastik dls.

“Tiada Qurban baginya…”

Prof. DR. Wahbah Az Zuhaili dalam kitabnya, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, menjelaskan:

ويحرم بيع جلد الأضحية وشحمها ولحمها وأطرافها ورأسها وصوفها وشعرها ووبرها ولبنها الذي يحلبه منها بعد ذبحها، واجبة كانت أو تطوعاً

“Haram menjual kulit, lemak, daging, kaki, kepala, bulu, rambut, bulu roma, dan susu dari hewan qurban setelah menyembelihnya, baik qurban wajib ataupun qurban sunah” (Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 4/2741).

Keharaman hal ini berdasarkan hadist:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من باع جلد أضحيته فلا أضحية له”

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: ” Barangsiapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka tiada qurban baginya” (HR. Hakim, 2/422, No. 3468).

Hadist ini hanya menyebutkan larangan menjual kulit, namun sebenarnya yang dimaksud adalah larangan menjual bagian manapun dari hewan qurban.

إَطْلَاقُ الْجُزْءِ وَإَرَادَةُ الْكُلِّ

Menyebutkan sebagian, namun yang dimaksud adalah keseluruhan.

Logika Larangan.Sebagaimana dalam fikih zakat, ketika seseorang membayar Zakat Maal, berupa sejumlah kambing misalnya,maka sejumlah kambing tersebut sejak awal diniatkan untuk taqarraub (ibadah) kepada Allah Ta’ala; maka tentu tidak pantas bagi dia mengambil sebagian dari zakatnya dan menjualnya.Begitu pula dengan ibadah qurban, seekor hewan qurban dengan seluruh anggota badannya telah diserahkan untuk taqarrub kepada Allah SWT, maka bagaimana mungkin dia menjualnya.

Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama’.- Jumhur Ulama’ berpendapat tidak boleh menjual kulit hewan qurban dan bulunya; hujjah pendapat ini adalah hadist diatas.- Imam Abu Hanifah membolehkan untuk menjual kulit dan bulunya serta bagian tubuh lainnya secara barter dengan barang perniagaan, dengan syarat tidak diuangkan.Hujjah pendapat ini adalah jual beli bagian tubuh hewan qurban dengan uang menunjukkan bentuk jual beli yang sangat jelas, adapun jika jual beli dengan barang perniagaan, maka hal ini tidak mengarang kepada jual beli yang jelas, justru ada kemiripan dengan pemanfaatan barang masing-masing.(Taudhihul Ahkam, 7/114).

Kalau kita perhatikan rincian pendapat Imam Abu Hanifah, sebenarnya beliau juga sependapat dengan Jumhur Ulama, yaitu haram memperjual-belikan kulit hewan qurban, hanya saja Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hal itu dilarang kalau berbentuk jual-beli yang jelas.

Catatan:

1. Larangan ini berlaku untuk mereka yang hendak berqurban dan pihak yang mewakili penyembelihan sampai dengan pendistribusian, panitia qurban. Panitia qurban adalah wakil dari orang yang berqurban, maka dia sejatinya adalah perpanjangan tangan dari orang yang hendak berqurban. Maka dalam hal ini, tindakan hukum panitia qurban haruslah sama dengan orang yang berqurban.

2. Larangan ini tidak berlaku bagi penerima daging hewan qurban, dia bebas memanfaatkannya, baik mengkonsumsi atau menjualnya; hal ini dikarenakan dua hal:

Pertama: lafadz dalam hadist “أضحيته” artinya hewan qurbannya, kata ganti orang dalam kata ini menunjuk secara khusus kepada pemilik hewan qurban, bukan lainnya.

Kedua: daging qurban tersebut telah menjadi hak milik yang sah bagi penerima, dia memiliki kebebasan menggunakannya.

3. Terakhir biasanya ada alasan yang dibuat-buat untuk pembenaran atas penjualan kulit hewan qurban, misalnya tidak semua orang yang berhak menerima daging qurban bisa atau mau memasak kulit hewan qurban, sehingga terpaksa dijual saja untuk meringankan tugas panitia. Alasan ini sangat lemah sekali, sebenarnya cukup bagi panitia menyerahkan kulit hewan qurban kepada yang berhak menerima, dan bagi penerima tidak harus memasaknya, dia bebas memanfaatkannya termasuk juga menjualnya.

Kesimpulan:

1- Seseorang yang berqurban dilarang keras menjual kulit hewan qurban atau baian tubuh lainnya, hal ini berlaku juga untuk wakil dari orang yang berqurban (panitia qurban). Larangan ini tidak berlaku bagi penerima dagung hewan qurban, dia bebas memanfaatkannya, bahkan menjualnya.

2- Seseorang yang berqurban dan ingin mewakilkan penyembelihan hewan qurban sampai dengan pendistribusian, hendaklah dia pandai memilih panitia qurban yang telah teredukasi dengan baik tentang fiqih Qurban.

3- Seseorang yang berqurban seyogyanya dia menanyakan kepada pihak panitia, apakah penyembelihan hewan qurban membutuhkan biaya tambahan ataukah tidak? Seandainya memang membutuhkan maka alangkah dia dangan senang hati membayarkannya. Hal ini untuk mengantisipasi dan menghindari adanya pelanggaran terhadap larangan ini.

Wallahu A’lam

Oleh; Tim Mitra Wakaf dan Agus Purwanto Lc., M.Hum  (Dewan Syariah Mitra Wakaf)

Anda ingin berqurban?
Namun sering terasa berat saat menjelang Idul Adha?
Kini, ada solusi untuk Anda dan keluarga,
Insya Allah sekarang siapapun bisa berqurban

klik gambar di bawah ini

Bagikan ini di

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *