fbpx Judul Saya
Iedul Adha Menjadi Momentum Menguatkan Persaudaraan Ummat

Iedul Adha Menjadi Momentum Menguatkan Persaudaraan Ummat

Oleh: Ridhwanullah

Belum lama ini kita melewati hari raya besar ummat Islam, yakni Iedul Adha 1438 H. Hari raya yang dapat bermakna ganda bagi ummat Islam saat ini. Alasannya beberapa kondisi ummat Islam yang sedang mengalami berbagai tekanan di banyak tempat di seluruh dunia. Mulai dari diskriminasi, pengucilan, Islamphobia, ketidak  adilan, hingga kekerasan dari konflik yang berkepanjangan.

Eropa

Apa yang dialami ummat Islam di eropa misalnya, yang hingga saat ini belum dapat merasakan keadilan perlakuan terhadap aturan-aturan diskriminatif pemerintah. Seperti yang terjadi di Jerman, Inggris, dan negara lainnya. Mulai dari peraturan tentang pelarangan menggunakan burkha, sholat, adzan, dan bebrbagai macam bentuk aturan yang terkesan subjektif. Dalih tentang pencegahan terorisme dan emansipasi wanita justru makin menguatkan kesan islampohobia yang ada di eropa.

Amerika

Amerika serikat yang mengalami gejolak yang sama lebih dulu, justru terlihat lebih dewasa menghadapi persoalan ini. Masyarakat Amerika mulai banyak menyadari dan menerima kehadiran Islam di tengah-tengah kehidupan mereka. Tidak lepas dari kampanye-kampanye yang terus disuarakan oleh berbagai tokoh dan akativis di sana. Simpati dari agama lain dan LSM berdatangan sehingga Islamophobia dapat sedikit tergerus.Namun Amerika juga tidak luput dari kecaman, apalagi ketika Presiden Trump memberlakukan pelarangan masuk ke Amerika terhadap 7 negara Islam.

Kabar yang sedikit mengejutkan baru-baru ini, Presiden Amerika Donald Trum, akhirnya bersedia menghadiri pertemuan Arab Islamic America Summit di Riyadh, Saudi Arabia, untuk menanggapi isu berkembang tentang Islam. Banyak kalangan mengatakan ini adalah upaya Trum untuk cuci tangan dari sikapnya yang kurang bersahabat di awal kepemimpinananya beberapa waktu yang lalu.

China

Nasib yang sedikit lebih pelik dihadapi Muslim etnik Uighur di China.Peraturan-peraturan diskriminatif bermunculan dengan alasan untuk mengcegah berkembangnya ekstrimis Islam disana. Pemerintah china melarang memanjangkan jenggot, larangan menggunakan jilbab, dan tidak mengizinkan anak-anak untuk mendapatkan pendidikan sekolah milik pemerintah.

Selama beberapa tahun terakhir, di wilayah ini terjadi kekerasan berdarah.Pemerintah China menuduh kekerasan itu dilakukan oleh militan Islam dan separatis. Tetapi kelompok HAM mengatakan kerusuhan ini terjadi sebagai reaksi atas kebijakan represif, dan menyatakan bahwa kebijakan baru China di wilayah ini justru akan mendorong sejumlah orang Uighur ke dalam ekstremisme.

India

Pertumbuhan jumlah penduduk di India memang sangat mengesankan. Menurut beberapa pihak beberapa tahun kedepan ummat Islam akan menjadi agama mayoritas di India. Saat ini india adalah negara berpenduduk mayoritas beragama hindu.Fakta ini menimbulkan kecemburuan sosial dan gesekan-gesekan terhadap muslim di India. Sehingga memicu konflik-konflik kecil di negara itu.

Konflik Berkepanjangan

Gesekan-gesekan yang mulanya biasa itu dapat mebesar dan meluas sehingga memicu konflik yang lebih besar. Teranyar adalah apa yang dihadapi etnis Rohingya di Myanmar. Motif politik dan ekonomi menjadi dasar dan alasan dibalik kekerasan dan pembantaian terhadap ummat muslim yang tidak kunjung usai di Myanmar. Keberadaan mereka tidak diakui, dan dianggap hama yang harus dimusnahkan.

Fakta itu memperpanjang daftar konflik kekerasan yang terjadi terhadap ummat Islam beberapa kurun waktu terakhir. Selain di Myanmar ada negara Muslim yang masih mengalami konflik berkepanjangan, yakni Palestina dan Suriah.

Ummat muslim dunia mulai menunjukkan kegeramannya atas reaksi yang lambat terhadap konflik-konflik yang terjadi. Baik itu PBB maupun negara-negara muslim lainnya. Di rusia ribuan orang turun kejalan, di eropa, amerika, dan berbagai tempat di seluruh dunia berbondong-bondong turun kejalan menyuarkan aspirasi mereka, termasuk Indonesia.

Iedul Adha dan Persaudaraan Sesama Muslim

Momentum hari raya Iedul Adha bisa menjadi momen untuk kembali menguatkan tali persaudaraan antara ummat muslim lintas negara. Karena pada dasarnya seluruh ummat Islam apapun suku bangsa dan rasnya adalah bersaudara.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ . إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat(QS. Al-Hujuraat: 9-10).

Kondisi ummat muslim saat ini seharusnya mampu meningkatkan simpati dan perhatian kita, agar peduli dan ikut merasakan kesusahan yang dialami saudara muslim kita lainnya di suluruh dunia. Kondisi yang mungkin sangat berbeda dengan apa yang kita rasakan di Indonesia.

Hari raya Iedul Adha adalah harinya berbagi, momen dimana ummat muslim dianjurkan untuk berabagi kepedulian kepada sesama. Apalgi melihat kondisi ummat Islam saat ini.

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang Telah ditentukan atas rezki yang Allah Telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak[986]. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al Hajj [22]: 28)

Team Admin
Mitra Wakaf Indonesia
Kebaikan yang Terus Mengalir

 

 

 

 

Bagikan ini di

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *