fbpx Judul Saya
Ini Alasan Islam Larang Perjualbelikan Barang Najis

Ini Alasan Islam Larang Perjualbelikan Barang Najis

Penulis: Ustad Supriadi Boni

Allah Ta`ala ketika mengharamkan beberapa jenis makanan (barang najis), tidak hanya ditujukan untuk menguji sejauh mana kekuatan mental mereka untuk menghindari dan menjauhi mengonsumsi makanan tersebut. Tetapi juga untuk meredam nafsu bendawi dalam diri mereka.

Salah satu tugas pokok Rasulullah yakni mengantarkan manusia pada pola hidup bersih dan suci. Tidak hanya secara fisik tapi juga pada harta benda yang dimiliki.

Tidak seperti Bani Israel yang senantiasa memolitisir perintah-perintah agama. Ketika mereka dilarang bertransaksi riba, mereka menganggap bahwa larangan itu hanya jika riba dilakukan antara keturunan Bani Israel semata. Mereka boleh mengambil harta riba dari selain Bani Israel.

Ketika mereka dilarang berburu hewan laut di hari Sabtu, mereka memasang pancing dan jala mereka di hari Jumat lalu mengangkatnya di hari Ahad. Termasuk ketika mereka dilarang makan bangkai, daging babi, mereka mengambil dan mengolah lemaknya kemudian mereka dagangkan.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah dan RasulNya mengharamkan menjual khamar, bangkai, daging babi dan patung-patung. Lalu sabahat bertanya: “Bagaimana dengan orang yang mengambil lemak bangkai untuk mengecat kapal dan membersihkan kulit serta untuk penerangan? Rasulullah menjawab: “Tidak boleh, itu diharamkan”.

Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Allah murka kepada orang-orang Yahudi. Di mana ketika Allah mengharamkan lemak bangkai mereka mengolahnya untuk mereka jual dan hasilnya mereka makan.” (HR. Bukhari, no 2121 dan Muslim no 1581).

Imam Ash-Shan’ani dalam kitabnya Subulu As-Salam, 3/6 mengatakan: “Yang dimaksud dengan kata ganti (huwa) dalam hadits di atas adalah jual beli. Artinya haram hukumnya menjual lemak bangkai(barang najis) dan pendapat ini tampak lebih kuat”.

Selanjutnya beliau mengatakan: “Hadits ini menunjukkan bahwa ketika satu jenis barang haram diperjualbelikan maka hasilnya pun haram dimiliki, apalagi dimakan. Segala tindakan yang dimaksudkan untuk menghalalkan sesuatu yang haram dianggap bathil dan salah.”

Sumber: harianamanah.com

_____________________________
Penulis:
-Dewan Syariah Mitra Wakaf
-Redaktur Ahli Harianamanah.com

Bagikan ini di

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *