fbpx Judul Saya
YERUSALEM THE RED LINE SITUATION

YERUSALEM THE RED LINE SITUATION

Oleh: Admin MW

Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan Kedutaan Besar AS ke kota suci itu telah memicu kemarahan berbagai negara (Rabu, 6/12/2017)

Tindakan itu dianggap sebagai kemunduran dalam upaya perdamaian dunia yang sedang digalakan negara-negara pendukung perdamaian Israel-Palestina. Protes berdatangan dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintahan maupun masyarakat sipil.

Turki, Inggris, Belgia, Prancis, Malaysia, Indonesia, dan banyak negara lagi menyampaikan kemarahan dan protesnya terhadap pengakuan konyol Trump tersebut, yang dicurigai sebagai balas jasa Trump terhadap Israel atas janji politiknya.

Keputusan Trump juga telah memicu gelombang protes ummat muslim. Sebagai objek yang merasa paling dirugikan dalam keputusan tersebut tentu tidak akan bisa menerima keputusan sepihak itu.

Erdogan menegaskan kepada Trump bahwa Status Yerusalem sebagai a red line for muslims atau dapat diterjemahkan sebagaj batas kesabaran ummat muslim.

Yerusalem salah satu kota yang disucikan oleh ummat Islam, tempat Masjid Al-Aqsa berada. Al-Aqsa adalah marwah bagi segenap ummat muslim tidak hanya di palestina, tetapi ummat muslim dunia.

As akan mencoreng kredibilitasnya sendiri sebagai penengah konflik antara Israel-Palestina jika benar-benar mewujudkan keinginan ambisius Trump tersebut.

Apa yang bisa dilakukan sebagai ummat muslim?

1. Mendoakan Palestina agar Allah segera menurunkan bantuannya

2. Menyampaikan protes baik di media online dan offline

3. Mendukung segala upaya yang dilakukan baik pemerintah maupun lembaga yang mengupayakan pengakuan tersebut ditarik kembali

4. Boikot produk AS, semampu yang kita bisa

5. Share pesan ini, agar ummat muslim menyadari pentingnya persoalan ini

Sultan Salahuddin al-Ayyubi pernah berkata;

قال القائد العظيم صلاح الدين الأيوبي: (كيف أبتسم والأقصى أسير والله إني لأستحي من الله أن أبتسم وإخواني هناك يعذبون ويقتلون)

“Bagaimana mungkin aku tersenyum sedangkan al-Aqsa sedang ditawan. Sesungguhnya demi Allah aku malu terhadap Allah untuk tersenyum sedangkan saudaraku sedang diseksa dan dibunuh.” (Kitab al-Nawadir al-Sultaniah karangan Abu al-Muhasin Bahauddin 632H)

 

Bagikan ini di

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *