Konsep Harta Dalam Islam

Konsep Harta Dalam Islam

 

Oleh : Tim Data, Informasi dan Keilmuan Mitra Wakaf

  1. Pengertian Harta

 Harta dalam bahasa Arab disebut al-amaal yang berasal dari kata مَالَ – يَمِيْلُ – مَ يْلاَ yang berarti condong, cenderung, dan miring. Harta menurut syariat: segala sesuatu yang bernilai, bisa dimiliki, dikuasai, dimanfaatkan yang menurut syariat yang berupa (benda dan manfaatnya). Kata harta disebut dalam Al Qur’an tidak kurang dari 86 kali. Penyebutan berulang-ulang terhadap sesuatu di dalam Al-Qur’an menunjukkan adanya perhatian khusus dan penting terhadap sesuatu itu. Harta merupakan bagian penting dari kehidupan yang tidak dipisahkan dan selalu diupayakan oleh manusia dalam kehidupannya terutama di dalam Islam.

 

  1. Fungsi dan Peran Harta dalam Islam

Dalam ajaran Islam, harta memiliki fungsi dan peran yang strategis dalam kehidupan seorang Muslim.

  1. Harta sebagai amanah. Manusia hanyalah pemegang amanah (titipan), sementara pemilik yang hakiki adalah Allah SWT. “Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allah dikembalikan segala “ (Al-Imran: 109).
  2. Harta sebagai perhiasan hidup. Perhiasan yang memungkinkan manusia boleh menikmatinya dengan baik dan tidak berlebih-lebihan. Manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk memiliki, menguasai dan menikmati harta. Firman Allah dalam Al-Qur’an, surat Ali Imran ayat 14: “Dihiaskan kepada manusia, mencitai syahwat (keinginan nafsu), seperti perempuan-perempuan, anak-anak dan harta benda yang banyak dari emas, perak, kuda yang baik, binatang-binatang ternak dan tanam-tanaman. Demikianlah kesukaan hidup dunia dan di sisi Allah tempat kembali yang sebaik-baiknya (yaitu surga).”

Namun, terkait dengan fungsi dan peran harta sebagai perhiasan dalam kehidupan manusia, seringkali manusia terlupa akan kedudukan harta untuk mendekatkan diri semata kepada Allah. Sehingga sering harta ini membuat manusia menjadi sombong dan berbangga diri sehingga lupa kepada Allah sebagai pemberi harta tersebut.

  1. Harta sebagai ujian keimanan. Hal ini terutama menyangkut tentang cara mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam atau tidak. “Dan ketahuilah, bahwa harta dan anak-anakmu menjadi fitnah (ujian) dan sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar.” (Al-Anfal, 8: 28). Harta bisa menjadi sebab seseorag dekat dengan Allah SWT atau menjauh dari Allah SWT, dikarenakan kekafiran sangat dekat dengan kefakiran.
  2. Harta sebagai sarana ibadah dan dakwah. Yakni, untuk melaksanakan amalan perintah Allah SWT, terutama yang termasuk ke dalam Rukun Islam, yaitu Zakat dan Haji. Termasuk juga amal shalih yang lain seperti berdakwah, menyantuni fakir miskin, membangun masjid, sekolah dll. Firman Allah dalam Qur’an, surat al-Taubah ayat 41: “Keluarlah kamu (ke medan pertempuran) dengan berjalan kaki atau berkendaraan dan berjuanglah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Demikian itu lebih baik bagimu.”

 

  1. Harta sebagai bekal kehidupan di dunia. Bekal kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti yang tertulis dalam firman Allah dalam Qur’an, surat al-Nisa’ ayat 9:

Dan hendaklah mereka takut jika sekiranya mereka meninggalkan anak-anak yang masih lemah di belakangnya, takut akan terlantar anak-anak itu, maka hendaklah mereka takut kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang betul.”

  1. Harta sebagai bekal kehidupan di akhirat. Dunia adalah ladang amal, maka jika harta yang kita punya digunakan sebaik-baik untuk meraih keridaan Allah SWT, InsyaAllah akan menjadi pundi-pundi pahala, ini akan menjadi bekal yang dapat kita bawa di kehidupan akhirat. Allah ta’ala berfirman “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. an-Nahl: 96).

 

  1. Muslim Harus Kaya dan Dermawan

Seorang muslim dianjurkan untuk meng-infaqkan hartanya di jalan Allah SWT. Namun apabila seorang muslim tidak memiliki harta yang cukup maka mustahil baginya untuk berinfaq dengan harta. Misalnya sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kehidupan keluarganya saja belum cukup. Oleh sebab itu dalam Islam dianjurkan seorang muslim menjadi seorang yang kaya serta berkecukupan.

“Apabila telah ditunaikan sembahyang maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah…” (Al-Jumu’ah: 10).

Dahulu para sahabat Rasulullah SAW kuat imannya, kuat fisiknya, dan kuat finansialnya. Meskipun dirundung banyak cobaan dan ujian dari kaum kafir dan musyrik, mereka tetap bisa bertahan meneruskan dakwah dan berjihad menegakkan agama Allah SWT hingga saat ini. Rasulullah SAW bersabda; “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan…” (HR. Muslim).

Islam menganjurkan seorang muslim menjadi pribadi yang kuat; iman, fisik, maupun harta. Kesemua itu akan mempermudah jalannya dakwah dan jihad di jalan Allah SWT. Kuat harta maksudnya adalah memiliki kecukupan harta. Ada sebuah anggapan bahwa seorang muslim itu tidak perlu kaya. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar, sebab untuk berdakwah dan berjihad diperlukan perbekalan penunjang yang tentu memerlukan biaya.

Menjadi seorang muslim yang kaya tidak tercela, namun yang membuat tercela adalah ketika kekayaan diperoleh dengan jalan yang batil atau haram. Kekayaan tersebut juga menjadi tercela apabila menjadikan seseorang menjadi sombong dan kikir.

Muslim yang baik memperoleh kekayaannya dengan jalan yang halal dan membelanjakan atau menyalurkannya dengan sesuatu yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya. Bersyukur atas nikmat harta dan berusaha meninggalkan sifat kikir dan sombong. Semoga kita termasuk di dalamnya. Aamiin. Allah SWT mengarahkan hambanya agar berdoa meminta kesuksesan dunia dan akhirat, sebagaimna firmannya ”Wahai Rabb kami! Karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka.” (Al-Baqarah :201).

 

Bagikan ini di

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *