Part 1: Teladan Sahabat Soal Manajemen Harta

Part 1: Teladan Sahabat Soal Manajemen Harta

Nabi telah mempraktekan contoh mengatur atau memanfaatkan kekayaan dalam banyak riwayat salah satunya wakaf. Praktek-praktek tersebut kemudian diterapkan pula oleh sahabat Rasulullah seperti, Abu Bakr, Umar, dan lain-lain.

Seperti kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah berikut:

“Dengan langkah gontai, laki-laki itu datang menghadap Rasulullah. Ia sedang didera problem finansial. Tak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Bahkan hari itu ia tidak memiliki uang sepeserpun.

Dengan penuh kasih, Rasulullah mendengarkan keluhan orang itu. Lantas beliau bertanya, apakah ia punya sesuatu untuk dijual. “Saya punya kain untuk selimut dan cangkir untuk minum ya Rasulullah,” jawab laki-laki itu.

Rasulullah pun kemudian melelang dua barang itu. “Saya mau membelinya satu dirham ya Rasulullah,” kata salah seorang sahabat. “Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?” Inilah lelang pertama dalam Islam. Dan lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya. “Saya mau membelinya dua dirham”

Rasulullah memberikan hasil lelang itu kepada laki-laki tersebut. “Yang satu dirham engkau belikan makanan untuk keluargamu, yang satu dirham kau belikan kapak. Lalu kembalilah ke sini.”

Setelah membelikan makanan untuk keluarganya, laki-laki itu datang kembali kepada Rasulullah dengan sebilah kapak di tangannya. “Nah, sekarang carilah kayu bakar dengan kapak itu”. Demikian kira-kira nasehat Rasulullah. Hingga beberapa hari kemudian, laki-laki itu kembali menghadap Rasulullah dan melaporkan bahwa ia telah mendapatkan 10 dirham dari usahanya. Ia tak lagi kekurangan uang untuk menafkahi keluarganya.”

(HR.Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Dari kisah diatas kita dapat melihat Rasulullah mengajarkan kepada laki-laki tersebut untuk mengatur hartanya dengan membaginya dalam dua kategori; Konsumsi dan modal usaha. Secara umum ini adalah pembagian sederhana, yakni ketika kondisi ekonomi sedang sangat sulit.

Sedangkan dalam riwayat yang lain Rasulullah tetap menganjurkan agar jangan lupa untuk mengeluarkan sebagian harta, sebab sebagian dari harta kita ada hak orang lain.

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS Adz Dzariyat :19)

Maka dari itu, Salman Alfarisi membagi peruntukan harta menjadi 3, yaitu untuk konsumsi, modal usaha, dan sedekah (keluargacinta.com).

Pola pengaturan seperti ini telah dibuktikan Rasulullah dan para sahabatnya. Bagaimana mereka menjadi orang yang sangat kaya dan juga demawan. Namun pada satu sisi terkadang terlihat sangat kekurangan dan tetap dapat bersabar atas kekurangan tersebut.

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra:29)

Salah satu contoh sahabat Nabi yakni Abdurrahman bin Auf, beliau memiliki harta yang sangat melimpah, pengusaha sukses yang mahsyur, namun beliau juga terkenal dengan kedermawanannya. Kehidupannya selalu tercukupi dengan baik berkat menjalankan setiap anjuran Allah dan Rasul-Nya. Bahkan dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa sepeninggal Nabi Abdurrahman bin Auf adalah orang ditunjuk untuk menanggung keluarga Nabi.

Hartanya cukup untuk konsumsi, modal bisnis, dan apalagi untuk infaq baik itu berupa sedekah, zakat, maupun wakaf.

Rasulullah dan sahabat-sahabatnya tidak takut miskin dengan bersedekah, sebab apa yang ada di sisi Allah sungguh lebih baik dari apa yang mereka miliki. Namun juga tidak melupakan keluarganya untuk diberi nafkah (konsumsi), sebab memberi nafkah merupakan salah satu bentuk sedekah dan ibadah kepada Allah SWT.

Sabda Nabi: “Sesungguhnya tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah dengan ikhlas karena Allah kecuali kamu mendapat pahala darinya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Sumber:
1. Al-Quran dan Hadits

2. http://keluargacinta.com/rahasia-dasar-mengelola-keuangan-dari-rasulullah/
Bagikan ini di

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *