Part 2: Teladan Sahabat Soal Manajemen Harta

Part 2: Teladan Sahabat Soal Manajemen Harta

Teladan Sahabat Soal Manajemen Harta

Pada dasarnya Islam membebaskan bagi manusia untuk mencari/memperoleh harta dan mengeluarkan/membelanjakan harta. Namun tidak melupakan aturan-aturan syar’i jangan sampai berlebihan atau mengandung unsur kebatilan, hak-hak orang lain dipenuhi. Ketika harta sudah dimiliki maka Islam juga mengatur agar penggunaannya tidak berlebihan (boros) dan dibelanjakan dengan jalan yang baik.

Firman Allah:

 “Dan orang-orang yang apabila  membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
(QS. Al-Furqon: 67)

Meskipun Islam membebaskan manusia dalam mencari dan membelanjakan hartanya, Islam menganjurkan agar pemasukan dan pengeluaran harus diseimbangkan. Tidak berlebihan dan juga tidak kikir.

Harta yang diperoleh (Pendapatan) dapat bersumber dari dua jalan yakni warisan atau hasil usaha. Warisan merupakan segala harta yang didapatkan secara cuma-cuma dari sesorang yang telah meninggal dunia, baik dari orang tua ataupun yang lain.  Sedangkan yang kedua, harta dapat diperoleh dari hasil usaha.

“Tidaklah seseorang mengkonsumsi makanan  lebih baik dari mengkonsumsi makanan yang diperoleh dari hasil kerja sendiri, sebab nabi Allah, Daud, memakan makanan dari hasil kerjanya.” (HR.Bukhari)

Harta yang diperoleh dari usaha sendiri bisa berupa hasil berdagang atau profesi berbayar. Islam menganjurkan agar seorang muslim berusaha mencari rezekinya sendiri, sebab yang demikian itu lebih baik daripada meminta-minta atau menunggu diberikan.

Ini juga menjadi bantahan bagi orang-orang yang berusaha hidup zuhud dengan cara yang salah dan berlebihan.

Seorang muslim juga dianjur mencari rezeki dengan jalan yang baik dan benar. Menghindari praktek-praktek yang bertentangan dengan asas keadilan. Karena setiap rezeki/harta yang dimiliki akan ditanyakan bagaimana cara mendapatkannya.

“Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan beranjak dari tempat kebangkitannya di hari kiamat sebelum ia ditanya tentang empat hal, diantaranya tentang hartanya; darimana dia memperoleh dan bagaimana ia membelanjakan.” (HR. Tirmidzi)

Pengeluaran juga harus dikontrol, harus seimbang antara pendapatan dengan pengeluaran. Setiap harta yang dibelanjakan mengedepankan asas berhemat dan asas manfaat.

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari penghasilan secara baik, membelanjakan harta secara hemat dan menyisihkan tabungan sebagai persediaan di saat kekurangan dan kebutuhannya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Tabungan dalam ayat ini bukan berarti menumpuk harta dalam jumlah yang banyak dalam masa waktu yang lama. Melainkan hanya sekedar untuk sebuah kebutuhan mendadak yang bisa terjadi kapan saja. Seperti keterangan pada hadits berikut;

“Barang siapa yang diserahi kepercayaan untuk mengurus harta anak yatim, hendaklah ia meniagakannya agar tidak dimakan zakat.” (HR. Tirmidzi)

Hadits sangat jelas menganjurkan agar harta benda jangan sampai ditumpuk dalam jumlah banyak dalam masa waktu yang lama, sebab jika mencapai haul, maka zakatnya perlu dikeluarkan. Sebaiknya harta yang idle (nganggur) didistribusikan agar bermanfaat bagi sesame, baik dalam bentuk usaha yang akan membuka lapangan pekerjaan baru, atau disumbangkan dalam bentuk infaq.

Bagikan ini di

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *