Part 1: Skema Investasi yang Sesuai Dengan Syariah

Part 1: Skema Investasi yang Sesuai Dengan Syariah

Secara umum investasi merupakan istilah yang biasa digunakan dalam aktivitas ekonomi dan bisnis. Investasi bisa didefinisikan sebagai komitmen sejumlah (AKTIVA) uang atau sumber daya lainnya yang dilakukan saat ini (present time) dengan harapan memperoleh manfaat (benefit) di kemudian hari (in future). Kadangkala, istilah investasi disinonimkan dengan aktivitas penanaman modal.

Sedangkan dalam hukum Islam istilah investasi disebut mudharabah. Prakatek mudharabah adalah bila seseorang menyerahkan harta kepada orang lain untuk dikelolanya, dan keuntungan dibagi diatara keduanya sesuai kesepakatan berdua (Al Haritsi, 2006).

Adapun unsur mudharabah adalah: pekerja dan harta. Di mana pekerjaan di sini mencakup pekerjaan mudharib dan pekerjaan para buruh yang digaji oleh mudharib untuk bekerja bersamanya. Sedangkan harta mencaakup modal uang dan modal barang. (Al Haritsi, 2006)

Terdapat beberapa perbedaan antara konsep investasi konvensional dan konsep investasi dalam Islam, sebagai berikut;

 Pertama; Kedua Pihak Bertanggung Jawab Atas Bisnis

Kontrak investasi dalam Islam dikategorikan sebagai kontrak amanah, yaitu kedua pihak dihukumkan sebagai rekan bisnis yang saling membantu (pembagian untung dan rugi) berdasarkan modal dari keduanya atau kita kenal dengan musyarakah. Artinya, tidak ada pihak yang menjadi penjamin atas pihak yang lainnya.

Berbeda dengan investasi konvensional pada umumnya yang di mana pihak mudharib harus bertanggung jawab menyediakan ROI (Return on Investment) kepada investor sesuai persentase kesepakatan sebelumnya. Sehingga mudharib sebagai pengelola dana investasi menjadi penjamin atas dana investasi yang telah diberikan.

Keputusan Majma Fiqh Al-Islami menyebutkan; “Investasi apa pun yang menjadikan pihak pengusaha (mudharib) memberikan keuntungan dengan kadar tertentu kepada investor, maka hal itu adalah haram. Karena sifat investasi telah berubah menjadi elemen pinjaman dengan janji keuntungan riba” (www.edubuku.com)

Kaidah mendasar sebuah investasi dalam islam, menyatakan: “Bahwa keuntungan adalah melalui menanggung risiko yang ada.” (Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah)

Kaidah tersebut segoyanya menegaskan bahwa seseorang yang ingin mengeruk keuntungan dari aktivitas apapun (termasuk investasi bisnis) berkewajiban untuk menanggung resikonya pula. Kerugian akan modal ditanggung pemilik modal.

Pemberi modal dan mudharib sama-sama bertanggung jawab atas kelangsungan usaha/bisnis yang sedang dijalankan kedua belah pihak. maka ketika bisnis merugi kedua belah pihak ikut rugi, dan ketika untung kedua belah pihak pula ikut untung.

Kedua: Bagi Hasil Bersifat Fluktuatif

Prosentase pembagian keuntungan berdasarkan hasil, bukan berdasarkan modal. Prosentase keuntungan berdasarkan nilai modal, adalah riba. Sebab sifat investasi telah berubah menjadi pinjaman modal dengan keuntungan riba (bunga).

Konsep Bagi hasil, dalam menghadapi ketidakpastian merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar dari ekonomi Islam, yang dianggap dapat mendukung aspek keadilan. Keadilan merupakan aspek mendasar dalam perekonomian Islam (Antonio, 2001).

Penetapan suatu hasil usaha didepan dalam suatu kegiatan usaha dianggap sebagai sesuatu hal yang dapat memberatkan salah satu pihak yang berusaha, sehingga melanggar aspek keadilan.

Oleh karena prosentase pembagian hasil keuntungan berdsarkan hasil, maka keuntungan akan bersifat fluktuatif tergantung profit bisnis yang dijalankan. Tidak ada keuntungan tetap (flat).

Ketiga: Keniscayaan Resiko

Pada umunya segala bentuk bisnis memiliki resiko masing-masing. Banyak jenis resiko yang dapat terjadi pada sebuah bisnis, baik internal maupun resiko eksternal. Mudharabah atau investasi tentu salah satu aktivitas bisnis yang tentu memiliki resiko. Termasuk dalam hal investasi atau mudharabah.

Dalam kaidah yang lain, menyatakan bahwa: “Siapa saja yang hendak mendapatkan manfaat dari sesuatu, maka harus baginya menanggung risikonya.” (Durar Al-Ahkam Sharh Majallah Al-Ahkam)

(Baca juga: “Part 2: Skema Investasi Yang Sesuai Dengan Syariah”)

 

Bagikan ini di

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *