Part 2: Skema Investasi yang Sesuai dengan Syariah

Part 2: Skema Investasi yang Sesuai dengan Syariah

“Investasi Syariah Mudharabah dan Musyarakah (Profit And Loss Sharing/PSL)”

Pembiayaan investasi berdasarkan prinsip bagi hasil yang sering dibahas dalam literatur fiqh dan umumnya disalurkan perbankan syariah terdiri dari dua jenis, yaitu pembiayaan mudharabah dan musyarakah (Febianto dan Kasri, 2007:2).

Mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara pemilik dana (shahibul maal) dan pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha, dengan pembagian laba atas dasar nisbah bagi hasil menurut kesepakatan kedua belah pihak, sedangkan bila terjadi kerugian akan ditanggung oleh pemilik dana, kecuali jika disebabkan oleh misconduct, negligence atau violation oleh pengelola dana. Sementara itu, musyarakah adalah akad kerja sama diantara pemilik modal untuk mencampurkan modal mereka dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya, sedangkan kerugian ditanggung semua pemilik modal berdasarkan porsi modal masing-masing (Nurhayati dan Wasilah, 2009:134).

Perbadaan mencolok antara mudharabah dan musyarakah adalah; Mudharabah merupakan bentuk penegasan kerjasama de­ngan kontribusi 100% modal dari shahibul maal dan keahlian dari mudharib. Sedangkan musyarakah kedua belah pihak bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud sesuai kesepakatan.

Investasi

Berarti menunda pemanfaatan harta yang kita miliki pada saat ini, atau berarti menyimpan, mengelola dan mengembangkannya merupakan hal yang dianjurkan dalam Al-Qur’an seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Yusuf 12: ayat 46-50. Allah swt berfirman yang artinya:

“(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf, dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya” (46). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan (47). Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan (49). Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” (QS Yusuf 12:46-49)

Ayat diatas mengajarkan kita untuk tidak menggunakan seluruh harta yang kita miliki setelah mendapatkannya. Maksud dari tidak menggunakan seluruh harta yang kita miliki adalah kita tidak menggunakan harta tersebut untuk hal yang tidak bermanfaat, karena akan menjadikan kita sebagai orang yang boros. Allah SWT sendiri tidak suka dengan sifat pemboros.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27)

(Baca juga: “Part 1: Skema Investasi yang Sesuai dengan Syariah”)

Bagikan ini di

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *